HARI PENDIDIKAN
NASIONAL
2 mei merupakan hari yang spesial bagi pendidikan
republik Indonesia karena pada tanggal tersebut lahir seorang sosok pendidikan
dengan slogan yang begitu populer dan terpampang pada logo pendidikan Indonesia
“Tut Wuri Handayani”. Yupppp.... siapa lagi kalo bukan Bapak Ki Hajar
Dewantara, salah satu sosok pahlawan pendidikan yang sangat terkenal di
kalangan masyarakat Indonesia. Berkat jasanya, pendidikan di Indonesia bisa
mengalami perkembangan yang baik. Untuk menghormati jasa beliau, maka setiap
tanggal 2 mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Menyikapi hal ini, SD Inpres Sanep dengan arahan dari
Kepala Sekolah tengah mempersiapkan rangkaian kegiatan dalam rangka
memperingati hari pendidikan nasional. Disini kepala sekolah mempercayakan aku
dan rekanku dalam menyusun konsep kegiatan yang akan diselenggarakan pada pagi
hari dan juga sore. Kegiatan akan dilaksanakan dalam waktu 3 hari terhitung
dari tanggal 1-3 mei dengan rangkaian kegiatan berupa upacara bendera, lomba bidang akademik,
olahraga, dan lomba yang membangun kerjasama dan sportivitas lainnya.
Hari pertama kami awali dengan lomba-lomba ringan di
pagi hari seperti memasukkan paku ke botol, makan mie, pukul air. Seperti
kegiatan hari pahlawan setiap perlombaan akan diikuti oleh perwakilan setiap
tim yang telah dibentuk sebelumnya. Sore hari kami lanjutkan dengan
pertandingan bola volly dan juga sepak bola untuk babak penyisihan.
Hari kedua bertepatan dengan hari pendidikan nasional,
kami melaksanakan upacara pengibaran bendera sebagai tanda memperingati,
menghormati dan mengenang jasa-jasa pahlawan terutama pahlawan pendidikan. Ada
yang unik pada pelaksanaan upacara bendera di SD Inpres Sanep ini khusus dalam
rangka memperingati hari pendidikan nasional. Seluruh peserta dan juga petugas
memakai pakaian tradisional khas asmat yaitu cawat lengkap dengan topinya.
Wahhhh.... sungguh pemandangan yang langka, bila kalian lihat bagaimana para
penggerek bendera membawa bendera kebangsaan dengan pakaian adatnya begitu
gagah terlihat. Bangga aku tinggal di Indonesia dengan segala keberagamannya
dan juga keunikan pakaian adatnya dan sekarang digunakan saat mengibarkan
bendera kebangsaan di acara yang sangat istimewa. Oh iya lupa upacara ini
dihadiri juga oleh sekretaris kepala kampung loh, masyarakat juga turut melihat
dengan seksama (padahal masyarakat juga sebelumnya sudah di undang untuk
mengikuti). Selesai melaksanakan upacara pengibaran, kami lakukan foto bersama
di depan baliho tema hari pendidikan tahun ini yang di pasang oleh kepala
sekolah. Kemeriahan terus belangsung dengan belanjutnya perlombaan yang telah
kami persiapkan. Khusus hari kedua ini kami laksanakan kegiatan bidang akademik
yaitu cerdas cermat. Sore hari kami lanjutkan dengan pertandingan bola volly
babak final perebutan juara 3 dan 4.
Hari terakhir merupakan puncak kemeriahan rangkaian
kegiatan ini. Kami lanjutkan kegiatan dengan perlombaan baca puisi, bakiak,
gigit sendok, balap karung, dan taring rotan. Sore harinya kami lanjutkan
dengan final bola volly dan sepak bola perebutan juara 1 dan 2. Kami semua
tertawa lepas dan terpingkal-pingkal menyaksikan anak-anak yang ikut lomba
balap karung dan tarik rotan. Keseruan tersendiri melihat mereka
melompat-lompat bahkan ada yang sampai bertabrakan dan terjatuh. Tak seperti
hari biasa yang bisa menyebabkan pertikaian, di kegiatan ini justru saat mereka
bertabrakan dan terjatuh mereka tertawa bersama saking senangnya.
Rangkaian kegiatan sudah selesai dilaksanakan dan
diikuti oleh setiap siswa dengan baik. Mereka semua menerima hadiah berdasarkan
perolehan point tertinggi setiap kelompokknya. Hadiah tersebut telah disiapkan
oleh kepala sekolah. Kami seluruh jajaran guru begitu senang melihat para siswa
mengikuti kegiatan ini dengan sangat antusias. Semoga kegiatan seperti ini
menjadi pemicu motivasi ana-anak untuk tetap belajar dan mengembangkan
kemampuannya demi masa depan mereka yang lebih baik.
SCHOOL OF TRAGEDY
Guys
selama masa pengabdian bukan berarti setiap harinya selalu berjalan lancer
tanpa ada gangguan tanpa ada masalah yang mengakibatkan orang tua siswa datang
ke sekolah atau bahkan guru sebagai korban. Guru-guru disini sering bercerita
mengenai sikap anak-anak dan bagaimana perlakuannya terhadap guru. Dulu di
awal-awal mengajar, Pak Alfius dan Bu Zita sering mendapat perlakuan yang tidak
baik dari siswa, dilempar kayu, disuguhi parang, tidak hanya itu orang tua juga
sering datang memarahi mereka. Ketabahan dan keikhlasan hati mereka yang
membuat mereka bertahan tetap memberikan ilmu kepada anak-anak pedalaman asmat.
Kejadian
ini tentu tidak hanya cerita guys…… aku juga pernah melihat dan mengalaminya
sendiri. Tiga kejadian yang takkan aku lupakan dan menjadi pelajaran juga
buatku betapa sulitnya, betapa keikhlasan itu sangat penting sebagai seorang
guru.
Diawal
kedatangan kami berdua. Pak Alfius cerita bahwa setiap anak yang bermasalah
disekolah atau anak-anak yang membuat onar dengan sesamanya harus segera
diselesaikan di sekolah, jangan sampai anak pulang dan persoalan itu belum
selesai karena bias mengakibatkan perselisihan orang tua, apalagi kalau
permasalahannya terjadi antara anak berbeda kampung bias mengakibatkan perang
saudara (hal yang menjadi langganan sih). Besoknya ketika kami membersihkan
rumah yang akan kami singgahi, ada anak yang memaki anak dari kampung berbeda
dengan Bahasa daerah mereka, tentu saja kami para guru tidak mengerti apa yang
mereka bicarakan, kami hanya focus pada pekerjaan supaya cepat selesai. Anak
yang dimaki tidak terima dengan makiaannya dan dia membalas dengan membawa
parang milik anak yang memakinya. Kejadian ini tidak kami ketahui hingga siang
hari anak tersebut mencari-cari parangnya di sekitar rumah yang dibersihkan
tadi. Sore harinya orang tua si anak datang ke rumah Pak Alfius dengan membawa
parang, dengan nada emosi dia menjelaskan bahwa parang anaknya diambil oleh
anak dari kampung sebelah. Dengan sabar pak Alfius menjelaskan bahwa
permasalahan ini akan diselesaikan di sekolah keesokan harinya. Setelah
dijelaskan seperti itu, orang tua si anak kembali pulang, tapi ternyata bukan
pulang ke rumahnya melainkan datang ke rumah si anak yang mengambil parang
anaknya yang kebetulan anak kepala kampung. Sore hari saat kami akan
bersilaturahmi ke rumah beliau, disana sedang terjadi percekcokan pembahasan
parang yang diambil. Cukup lama kami juga menunggu di luar tidak tahu apa saja
yang dibicarakan hingga akhirnya permasalahan ini diselesaikan keesokan harinya
di sekolah. Guru-guru di sekolah memberitahukan kepada seluruh siswa apabila
ada permasalahan yang terjadi selama disekolah harus dilaporkan kepada
guru-guru yang ada dan jangan saling mengejek dengan menggunakan Bahasa daerah
agar tidak terjadi permasalahan yang besar apalagi sampai melibatkan orang tua.
Disana hadir pula kepala kampung Eseib yang turut menjelaskan agar setiap
permasalahan yang terjadi di sekolah tidak sampai dibawa ke rumah. Baru juga
semalam diceritakan,,, ehhh kita langsung mengalami, padahal ini baru hari
pertama datang ke sekolah hahahhaha. Semoga kuat yah!!!!
Guys
itu baru yang pertama. Ada lagi nih kejadian yang hampir mirip. Yang ini
terjadi selama jam pelajaran olahraga. Waktu itu setelah diberikan materi,
anak-anak dibebaskan untuk bermain sesuai dengan apa yang mereka sukai.
Kebetulan aku dan Pak Charles mengikuti anak-anak bermain bola volley sementara
guru yang lain memantau anak-anak dari ruang guru.waktu itu ada dua anak yang
meminjam raket bulutangkis, ketika Pak Alfius memberikan kepada mereka ternyata
salah satu anak tidak mau bermain dengan anak yang sama-sama meminjam raket
tersebut. Disana terjadi percekcokan dan kemudian ada baku hantam, tidak hanya
mereka berdua, teman si anak yang tak mau bermain dengan anak satunya malah
ikut-ikutan menghajar anak tersebut. Pak Alfius mencoba melerai dan tak sengaja
memukul salah satu anak hingga menangis. Anak tersebut pulang melapor kepada
orang tuanya, sementara di sekolah kakak anak tersebut yang sedang asyik
bermain bola volley dengan gesitnya langsung mengejar anak yang telah
bertengkar dan membuat adiknya menangis. Langsung saja kami pada saat itu
terheran-heran ada kejadian apa sebetulnya. Tak lama kemudian dari sebelah
timur sana datang orang tua dan beberapa kerabatnya dengan muka yang pedas,
mata menyala siap menerkam mangsa (binatang kale menerkam mangsa), mereka
langsung mendatangi Pak Alfius, dengan meledak-ledak tak mau tahu melabrak
beliau yang katanya sudah memukul anaknya (guys perlu diketahui, penduduk
disini tak begitu peduli dengan Pendidikan anaknya, tapi kalo udah urusan
anaknya menangis dan ada permasalahan di sekolah, mereka langsung menelan
mentah apa yang dikatakan anaknya gak mau terima apa yang dijelaskan oleh para
guru, padahal perkataan anaknya itu belum sepenuhnya benar). Ni bapak-bapak gak
punya nyali banget datang ke sekolah langsung bawa komplotan, kan yang punya
masalah cuma anaknya baru itu komplotan urusannya ngapain coba datang ke
sekolah kenapa gak sekalian aja pak bawa se kampung ke sekolah biar kita adakan
liga jarum Indonesia (loh itukan sepak bola). Pak Alfius mencoba berusaha untuk
tetap tenang agar persoalan tidak berkepanjangan, beliau menjelaskan dengan
bijak, dan yah disini gak cukup sekali, perlu berkali-kali menjelaskan sampe
kering tenggorokan kayaknya baru bias tuh bapak-bapak ngerti. Setelah waktu
yang cukup lama dan tenaga yang cukup banyak (buat nahan emosi). Akhirnya tu
bapak paham dengan apa yang terjadi sama anaknya dan dia minta maaf sama
seluruh guru yang ada terhusus Pak Alfius. Edannnn ni bapak gak punya malu
banget ya, udah marah-marah gak jelas eh sekarang dengan lugunya dia minta maaf
dan pulang begitu saja. Ada saja kejadian disini yang bikin terheran-heran.
Kadang aku ngebayangin juga bagaimana kalau aku sendiri yang mengalami bukan
hanya menyaksikan, segala jurus siap dikeluarkan (ekspektasinya).
Ada
lagi nih, dan ini aku sendiri yang mengalami, sampai-sampai sakitku kambuh
lagi. Waktu itu aku sedang mengajar di kelas, dari pagi anak-anak memang sudah
membuat kesabaran ini terus diuji, emosi terus di beri minyak tinggal tunggu
kapan meledaknya. setelah jam istirahat kedua, anak-anak masuk kelas, ketika
aku mulai mengajar tiba-tiba dari belakang terjadi percekcokan seorang siswa
laki-laki dan perempuan (dua siswa ini sehari-hari memang sering bercanda
sampai bertengkar), ketika aku tanya apa yang dipermasalahkan, ternyata mereka
rebutan sebuah kertas yang sudah diremas-remas berisi sebuah gambar, mereka
berebut saling mengaku itu gambar milik mereka hingga akhirnya siswa laki-laki
memukul siswa perempuan, tak ayal emosi yang sudah tertahan dari pagi hari
langsung keluar begitu saja. Aku langsung berbicara dengan emosi yang
meluap-luap, tidak hanya pada kedua anak tersebut tetapi juga pada siswa yang
lain agar mereka tidak membuat masalah setiap harinya, agar mereka bias
bersikap lebih baik lagi setiap harinya. Anak lelaki yang membuat masalah
tersebut berjalan hendak pulang ke rumahnya dengan tangisan, aku mencoba
memegang tangannya agar tidak sampai pulang dan tiba-tiba tangisannya kembali
mengeras. Guru-guru yang lain pun datang menghampiri ruangan kelas 4 menanyakan
apa yang sebenarnya terjadi. Disana posisiku sudah tak bias menahan sakit di
bagian dada akibat tetap menahan emosi yang masih ada sebagian aku tahan, aku
pergi ke ruang guru dan disana nafasku ngos-ngosan sampai akhirnya akupun tak
sadarkan diri. Aku tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi di kelas karena
sewaktu bangun posisiku sudah terbaring di ruang rawat puskesmas dengan tangan
kena infus. Disana para guru dan juga kepala sekolah menungguiku dengan
cemasnya. Rekan-rekan yang kebetulan penempatannya dalam satu distrikpun turut
menjenguk. Sungguh ini kejadian paling konyol, di tempat orang aku sampai
merepotkan dan membuat semua orang cemas. Tapi dari kejadian ini aku semakin
tahu, semakin yakin bila kita berbuat baik pada semua orang, pasti dimanapun
kita berada nanti, kita akan selalu dipertemukan dengan orang yang baik lagi.
Terakhir
nih yang membuat emosi ini meledak-ledak sampai-sampai aku kejar itu anak yang
buat masalah dan kegiatan kami waktu itu kemungkinan akan aku hentikan. Waktu
itu kami sedang mengadakan kegiatan memperingati hari Pendidikan Nasional.
Peristiwa ini terjadi pada saat kami selesai melaksanakan pertandingan final
juara 3 dan 4 bola volley dan sepak bola. Waktu itu anak-anak yang selesai
bermain sepak bola tengah menceburkan diri ke sungai, mereka asyik berenang
kesana kemari. Saat aku suruh mereka untuk naik dan mengikuti penutupan
kegiatan di hari itu, mereka tidak mau mendengarkan dan ada satu anak yang
ngeyel minta ampun, aku sampai mengumpat ke anak tersebut, dia berenang ke
sebrang karena takut aku apa-apakan. Alhasil aku kejar anak tersebut dengan
memutari sungai lewat jembatan (jangan ditanya kenapa gak langsung sebrang
lewat air sungai), anak tersebut lari sampai tidak kelihatan lagi batang
hidungnya. Guys,,, waktu itu suaraku sudah seperti toa saja, sekampung bisa
dengar suaraku sampai-sampai beberapa warga datang ke sekolah melihat apa yang
sebenarnya terjadi. Ditengah lapangan anak-anak juga sudah siap siaga berbaris,
aku mencoba memeberikan nasihat kepada mereka agar tetap bisa bersikap sopan,
mengikuti peraturan yang ada agar kegiatan ini berjalan dengan lancer, agar
semua anak bisa merasakan kesenangan dalam bermain sambal belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar