Sabtu, 05 Januari 2019

Impian dari Tanah Mutiara Hitam Indonesia bag. 6

HARI PENDIDIKAN NASIONAL
2 mei merupakan hari yang spesial bagi pendidikan republik Indonesia karena pada tanggal tersebut lahir seorang sosok pendidikan dengan slogan yang begitu populer dan terpampang pada logo pendidikan Indonesia “Tut Wuri Handayani”. Yupppp.... siapa lagi kalo bukan Bapak Ki Hajar Dewantara, salah satu sosok pahlawan pendidikan yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Indonesia. Berkat jasanya, pendidikan di Indonesia bisa mengalami perkembangan yang baik. Untuk menghormati jasa beliau, maka setiap tanggal 2 mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Menyikapi hal ini, SD Inpres Sanep dengan arahan dari Kepala Sekolah tengah mempersiapkan rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional. Disini kepala sekolah mempercayakan aku dan rekanku dalam menyusun konsep kegiatan yang akan diselenggarakan pada pagi hari dan juga sore. Kegiatan akan dilaksanakan dalam waktu 3 hari terhitung dari tanggal 1-3 mei dengan rangkaian kegiatan berupa  upacara bendera, lomba bidang akademik, olahraga, dan lomba yang membangun kerjasama dan sportivitas lainnya.
Hari pertama kami awali dengan lomba-lomba ringan di pagi hari seperti memasukkan paku ke botol, makan mie, pukul air. Seperti kegiatan hari pahlawan setiap perlombaan akan diikuti oleh perwakilan setiap tim yang telah dibentuk sebelumnya. Sore hari kami lanjutkan dengan pertandingan bola volly dan juga sepak bola untuk babak penyisihan.
Hari kedua bertepatan dengan hari pendidikan nasional, kami melaksanakan upacara pengibaran bendera sebagai tanda memperingati, menghormati dan mengenang jasa-jasa pahlawan terutama pahlawan pendidikan. Ada yang unik pada pelaksanaan upacara bendera di SD Inpres Sanep ini khusus dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional. Seluruh peserta dan juga petugas memakai pakaian tradisional khas asmat yaitu cawat lengkap dengan topinya. Wahhhh.... sungguh pemandangan yang langka, bila kalian lihat bagaimana para penggerek bendera membawa bendera kebangsaan dengan pakaian adatnya begitu gagah terlihat. Bangga aku tinggal di Indonesia dengan segala keberagamannya dan juga keunikan pakaian adatnya dan sekarang digunakan saat mengibarkan bendera kebangsaan di acara yang sangat istimewa. Oh iya lupa upacara ini dihadiri juga oleh sekretaris kepala kampung loh, masyarakat juga turut melihat dengan seksama (padahal masyarakat juga sebelumnya sudah di undang untuk mengikuti). Selesai melaksanakan upacara pengibaran, kami lakukan foto bersama di depan baliho tema hari pendidikan tahun ini yang di pasang oleh kepala sekolah. Kemeriahan terus belangsung dengan belanjutnya perlombaan yang telah kami persiapkan. Khusus hari kedua ini kami laksanakan kegiatan bidang akademik yaitu cerdas cermat. Sore hari kami lanjutkan dengan pertandingan bola volly babak final perebutan juara 3 dan 4.
Hari terakhir merupakan puncak kemeriahan rangkaian kegiatan ini. Kami lanjutkan kegiatan dengan perlombaan baca puisi, bakiak, gigit sendok, balap karung, dan taring rotan. Sore harinya kami lanjutkan dengan final bola volly dan sepak bola perebutan juara 1 dan 2. Kami semua tertawa lepas dan terpingkal-pingkal menyaksikan anak-anak yang ikut lomba balap karung dan tarik rotan. Keseruan tersendiri melihat mereka melompat-lompat bahkan ada yang sampai bertabrakan dan terjatuh. Tak seperti hari biasa yang bisa menyebabkan pertikaian, di kegiatan ini justru saat mereka bertabrakan dan terjatuh mereka tertawa bersama saking senangnya.
Rangkaian kegiatan sudah selesai dilaksanakan dan diikuti oleh setiap siswa dengan baik. Mereka semua menerima hadiah berdasarkan perolehan point tertinggi setiap kelompokknya. Hadiah tersebut telah disiapkan oleh kepala sekolah. Kami seluruh jajaran guru begitu senang melihat para siswa mengikuti kegiatan ini dengan sangat antusias. Semoga kegiatan seperti ini menjadi pemicu motivasi ana-anak untuk tetap belajar dan mengembangkan kemampuannya demi masa depan mereka yang lebih baik.

SCHOOL OF TRAGEDY
Guys selama masa pengabdian bukan berarti setiap harinya selalu berjalan lancer tanpa ada gangguan tanpa ada masalah yang mengakibatkan orang tua siswa datang ke sekolah atau bahkan guru sebagai korban. Guru-guru disini sering bercerita mengenai sikap anak-anak dan bagaimana perlakuannya terhadap guru. Dulu di awal-awal mengajar, Pak Alfius dan Bu Zita sering mendapat perlakuan yang tidak baik dari siswa, dilempar kayu, disuguhi parang, tidak hanya itu orang tua juga sering datang memarahi mereka. Ketabahan dan keikhlasan hati mereka yang membuat mereka bertahan tetap memberikan ilmu kepada anak-anak pedalaman asmat.
Kejadian ini tentu tidak hanya cerita guys…… aku juga pernah melihat dan mengalaminya sendiri. Tiga kejadian yang takkan aku lupakan dan menjadi pelajaran juga buatku betapa sulitnya, betapa keikhlasan itu sangat penting sebagai seorang guru.
Diawal kedatangan kami berdua. Pak Alfius cerita bahwa setiap anak yang bermasalah disekolah atau anak-anak yang membuat onar dengan sesamanya harus segera diselesaikan di sekolah, jangan sampai anak pulang dan persoalan itu belum selesai karena bias mengakibatkan perselisihan orang tua, apalagi kalau permasalahannya terjadi antara anak berbeda kampung bias mengakibatkan perang saudara (hal yang menjadi langganan sih). Besoknya ketika kami membersihkan rumah yang akan kami singgahi, ada anak yang memaki anak dari kampung berbeda dengan Bahasa daerah mereka, tentu saja kami para guru tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, kami hanya focus pada pekerjaan supaya cepat selesai. Anak yang dimaki tidak terima dengan makiaannya dan dia membalas dengan membawa parang milik anak yang memakinya. Kejadian ini tidak kami ketahui hingga siang hari anak tersebut mencari-cari parangnya di sekitar rumah yang dibersihkan tadi. Sore harinya orang tua si anak datang ke rumah Pak Alfius dengan membawa parang, dengan nada emosi dia menjelaskan bahwa parang anaknya diambil oleh anak dari kampung sebelah. Dengan sabar pak Alfius menjelaskan bahwa permasalahan ini akan diselesaikan di sekolah keesokan harinya. Setelah dijelaskan seperti itu, orang tua si anak kembali pulang, tapi ternyata bukan pulang ke rumahnya melainkan datang ke rumah si anak yang mengambil parang anaknya yang kebetulan anak kepala kampung. Sore hari saat kami akan bersilaturahmi ke rumah beliau, disana sedang terjadi percekcokan pembahasan parang yang diambil. Cukup lama kami juga menunggu di luar tidak tahu apa saja yang dibicarakan hingga akhirnya permasalahan ini diselesaikan keesokan harinya di sekolah. Guru-guru di sekolah memberitahukan kepada seluruh siswa apabila ada permasalahan yang terjadi selama disekolah harus dilaporkan kepada guru-guru yang ada dan jangan saling mengejek dengan menggunakan Bahasa daerah agar tidak terjadi permasalahan yang besar apalagi sampai melibatkan orang tua. Disana hadir pula kepala kampung Eseib yang turut menjelaskan agar setiap permasalahan yang terjadi di sekolah tidak sampai dibawa ke rumah. Baru juga semalam diceritakan,,, ehhh kita langsung mengalami, padahal ini baru hari pertama datang ke sekolah hahahhaha. Semoga kuat yah!!!!
Guys itu baru yang pertama. Ada lagi nih kejadian yang hampir mirip. Yang ini terjadi selama jam pelajaran olahraga. Waktu itu setelah diberikan materi, anak-anak dibebaskan untuk bermain sesuai dengan apa yang mereka sukai. Kebetulan aku dan Pak Charles mengikuti anak-anak bermain bola volley sementara guru yang lain memantau anak-anak dari ruang guru.waktu itu ada dua anak yang meminjam raket bulutangkis, ketika Pak Alfius memberikan kepada mereka ternyata salah satu anak tidak mau bermain dengan anak yang sama-sama meminjam raket tersebut. Disana terjadi percekcokan dan kemudian ada baku hantam, tidak hanya mereka berdua, teman si anak yang tak mau bermain dengan anak satunya malah ikut-ikutan menghajar anak tersebut. Pak Alfius mencoba melerai dan tak sengaja memukul salah satu anak hingga menangis. Anak tersebut pulang melapor kepada orang tuanya, sementara di sekolah kakak anak tersebut yang sedang asyik bermain bola volley dengan gesitnya langsung mengejar anak yang telah bertengkar dan membuat adiknya menangis. Langsung saja kami pada saat itu terheran-heran ada kejadian apa sebetulnya. Tak lama kemudian dari sebelah timur sana datang orang tua dan beberapa kerabatnya dengan muka yang pedas, mata menyala siap menerkam mangsa (binatang kale menerkam mangsa), mereka langsung mendatangi Pak Alfius, dengan meledak-ledak tak mau tahu melabrak beliau yang katanya sudah memukul anaknya (guys perlu diketahui, penduduk disini tak begitu peduli dengan Pendidikan anaknya, tapi kalo udah urusan anaknya menangis dan ada permasalahan di sekolah, mereka langsung menelan mentah apa yang dikatakan anaknya gak mau terima apa yang dijelaskan oleh para guru, padahal perkataan anaknya itu belum sepenuhnya benar). Ni bapak-bapak gak punya nyali banget datang ke sekolah langsung bawa komplotan, kan yang punya masalah cuma anaknya baru itu komplotan urusannya ngapain coba datang ke sekolah kenapa gak sekalian aja pak bawa se kampung ke sekolah biar kita adakan liga jarum Indonesia (loh itukan sepak bola). Pak Alfius mencoba berusaha untuk tetap tenang agar persoalan tidak berkepanjangan, beliau menjelaskan dengan bijak, dan yah disini gak cukup sekali, perlu berkali-kali menjelaskan sampe kering tenggorokan kayaknya baru bias tuh bapak-bapak ngerti. Setelah waktu yang cukup lama dan tenaga yang cukup banyak (buat nahan emosi). Akhirnya tu bapak paham dengan apa yang terjadi sama anaknya dan dia minta maaf sama seluruh guru yang ada terhusus Pak Alfius. Edannnn ni bapak gak punya malu banget ya, udah marah-marah gak jelas eh sekarang dengan lugunya dia minta maaf dan pulang begitu saja. Ada saja kejadian disini yang bikin terheran-heran. Kadang aku ngebayangin juga bagaimana kalau aku sendiri yang mengalami bukan hanya menyaksikan, segala jurus siap dikeluarkan (ekspektasinya).
Ada lagi nih, dan ini aku sendiri yang mengalami, sampai-sampai sakitku kambuh lagi. Waktu itu aku sedang mengajar di kelas, dari pagi anak-anak memang sudah membuat kesabaran ini terus diuji, emosi terus di beri minyak tinggal tunggu kapan meledaknya. setelah jam istirahat kedua, anak-anak masuk kelas, ketika aku mulai mengajar tiba-tiba dari belakang terjadi percekcokan seorang siswa laki-laki dan perempuan (dua siswa ini sehari-hari memang sering bercanda sampai bertengkar), ketika aku tanya apa yang dipermasalahkan, ternyata mereka rebutan sebuah kertas yang sudah diremas-remas berisi sebuah gambar, mereka berebut saling mengaku itu gambar milik mereka hingga akhirnya siswa laki-laki memukul siswa perempuan, tak ayal emosi yang sudah tertahan dari pagi hari langsung keluar begitu saja. Aku langsung berbicara dengan emosi yang meluap-luap, tidak hanya pada kedua anak tersebut tetapi juga pada siswa yang lain agar mereka tidak membuat masalah setiap harinya, agar mereka bias bersikap lebih baik lagi setiap harinya. Anak lelaki yang membuat masalah tersebut berjalan hendak pulang ke rumahnya dengan tangisan, aku mencoba memegang tangannya agar tidak sampai pulang dan tiba-tiba tangisannya kembali mengeras. Guru-guru yang lain pun datang menghampiri ruangan kelas 4 menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Disana posisiku sudah tak bias menahan sakit di bagian dada akibat tetap menahan emosi yang masih ada sebagian aku tahan, aku pergi ke ruang guru dan disana nafasku ngos-ngosan sampai akhirnya akupun tak sadarkan diri. Aku tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi di kelas karena sewaktu bangun posisiku sudah terbaring di ruang rawat puskesmas dengan tangan kena infus. Disana para guru dan juga kepala sekolah menungguiku dengan cemasnya. Rekan-rekan yang kebetulan penempatannya dalam satu distrikpun turut menjenguk. Sungguh ini kejadian paling konyol, di tempat orang aku sampai merepotkan dan membuat semua orang cemas. Tapi dari kejadian ini aku semakin tahu, semakin yakin bila kita berbuat baik pada semua orang, pasti dimanapun kita berada nanti, kita akan selalu dipertemukan dengan orang yang baik lagi.
Terakhir nih yang membuat emosi ini meledak-ledak sampai-sampai aku kejar itu anak yang buat masalah dan kegiatan kami waktu itu kemungkinan akan aku hentikan. Waktu itu kami sedang mengadakan kegiatan memperingati hari Pendidikan Nasional. Peristiwa ini terjadi pada saat kami selesai melaksanakan pertandingan final juara 3 dan 4 bola volley dan sepak bola. Waktu itu anak-anak yang selesai bermain sepak bola tengah menceburkan diri ke sungai, mereka asyik berenang kesana kemari. Saat aku suruh mereka untuk naik dan mengikuti penutupan kegiatan di hari itu, mereka tidak mau mendengarkan dan ada satu anak yang ngeyel minta ampun, aku sampai mengumpat ke anak tersebut, dia berenang ke sebrang karena takut aku apa-apakan. Alhasil aku kejar anak tersebut dengan memutari sungai lewat jembatan (jangan ditanya kenapa gak langsung sebrang lewat air sungai), anak tersebut lari sampai tidak kelihatan lagi batang hidungnya. Guys,,, waktu itu suaraku sudah seperti toa saja, sekampung bisa dengar suaraku sampai-sampai beberapa warga datang ke sekolah melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ditengah lapangan anak-anak juga sudah siap siaga berbaris, aku mencoba memeberikan nasihat kepada mereka agar tetap bisa bersikap sopan, mengikuti peraturan yang ada agar kegiatan ini berjalan dengan lancer, agar semua anak bisa merasakan kesenangan dalam bermain sambal belajar.

to be Continued ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

 KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN OLEH ASEP SAEPUL, S.Pd., Gr CGP ANGKAT...